Jam
kuliah akhirnya selesai juga, saatnya untuk Pram tancap gas motornya dan segera
pulang. Namun ketika ban motornya lewat depan gerbang kampus dia melihat
seorang gadis cantik dengan jilbab merah jambu di kepalanya Pram pun langsung
hilang kendali dan dia menabrak orang yang saat itu sedang lewat di depan
motornya. Gadis berjilbab merah jambu itu pun dengan sigap tanpa mengucap
sepatah katapun langsung menolong orang yang tak sengaja ditabrak Pram, dan
Pram pun turun dari motornya dan turut menolong orang tersebut untuk berdiri
dan untungnya orang tadi tidak ada lecetpun disekujur tubuhnya.
Keesokan
harinya, saat jam kuliah telah usai lagi Pram melihat gadis kemarin yang hari
ini sedang memakai jilbab hijau dan semakin cantik saja kalo diliat-liat gadis
itu sedang duduk-duduk di taman dekat tempat parkir motornya. Pram memberanikan
diri untuk berkenalan dengan gadis itu yang pada saat itu sedang duduk
sendirian sambil sibuk mengetik didepan laptopnya.
“boleh
aku duduk sini?”, ujar Pram.
“(tersenyum)”,
hanya senyuman yang dilontarkan gadis itu.
“(menyodorkan
tangannya) eh boleh tau nggak namanya siapa?”, ucap Pram.
“(menunjukkan
ketikan dilaptop yang dipangkunya) nama
saya Cinta, maaf saya tidak bisa bicara”.
“oh
maaf sebelumnya aku nggak tau kalo kamu nggak bisa bicara, aku Pram”.
“iya nggak papa, salam kenal Pram”,
menyodorkan laptopnya.
Ketika
tau kalo gadis berjilbab itu bernama Cinta dan dia juga memiliki kekurangan
yaitu nggak bisa bicara Pram jadi semakin simpati dan mulai menyukai Cinta.
Setiap hari dia bertemu Cinta di taman tempat pertama kalinya mereka
berkenalan. Walaupun Cinta tak bisa bicara tapi Pram lama-kelamaan bisa
mengikuti dan mengerti apa yang diomongkan Cinta walaupun itu hanya bahasa
isyarat yang Cinta lakukan untuk berkomunikasi dengan Pram.
Setelah
beberapa bulan kemudian, mereka dikabarkan telah berpacaran dan hubungan mereka
menjadi heboh satu kampus karena Pram yang dikenal dengan keplayboy-annya yang
suka dekat dengan gadis-gadis cantik dan molek dikampus sekarang dia malah
memilih gadis seperti Cinta yang sederhana dan bisa dibilang dengan gadis
muslimah yang terkenal baik walaupun dengan kekurangannya nggak bisa bicara
itu. Namun Pram seakan cuek dengan semua hal itu, dan semakin lama hubungan
mereka semakin baik.
“(dengan
bahasa isyarat) Pram, aku mau ngomong
sama kamu”.
“ngomong
apa Cinta?”, Pram menatap mata Cinta dengan serius.
“selama ini kamu terlalu baik sama aku, dan
selama ini aku juga sangat sayang sama kamu”, isyarat Cinta.
“terus?”.
“aku mau kamu jauhin aku, soalnya bentar lagi
mungkin kita nggak akan bisa sama-sama lagi”.
“emang
kamu mau pergi kemana sih?” tanya Pram.
“(Cinta
lari meninggalkan Pram)”.
Beberapa
hari kemudian Pram tidak pernah bertemu dengan Cinta dikampus lagi, setelah Cinta
mengucapkan agar Pram menjauh darinya. Pram kebingungan pada saat itu, dia
terus menanyakan pada teman terdekat Cinta, datang kerumahnya dan orang
rumahnya enggan memberitahu keberadaan Cinta, dan terus menghubungi ponselnya
tapi tak ada respon dari Cinta untuk membalasnya.
Sebulan
telah berlalu Pram akhirnya mendapat kabar dari salah seorang temannya yang
pernah bertemu Cinta sedang dirawat di Rumah Sakit Kusuma Bhakti, Pram tanpa
berpikir panjang langsung pergi ke rumah sakit itu dan bertanya pada
receptionist disana. Dan akhirnya dia bertemu Cinta yang sedang tertidur tak
berdaya di ranjang rumah sakit. Pram tetap berada disana sampai ada dokter yang
saat itu sedang memeriksa kondisi Cinta.
“dok,
sebenarnya Cinta sakit apa dok?”, tanyanya cemas.
“Cinta
koma karena sakit kanker paru-paru stadium akhir yang tengah menggerogoti
tubuhnya”.
“apa
dok?”, Pram terkejut dan langsung keluar.
Pram
merasa kaget setelah mendengar kabar itu, dia pun setiap hari rajin datang
mengunjungi Cinta di rumah sakit tapi Cinta pun tak kunjung membuka matanya
hanya untuk sekedar sadarkan diri dari komanya. Hingga suatu ketika Pram
merasakan jari-jemari Cinta yang selalu digenggamnya mulai menunjukkan
tanda-tanda untuk sadarkan diri dan ternyata benar Cinta akhirnya sadar dari
komanya yang beberapa lama itu. Dan saat sadar itu, Cinta langsung mengusap
pipi Pram dan menunjuk kearah buku hariannya yang saat itu dipegang oleh
Bundanya. Pram tau maksud Cinta, bahwa dia harus membaca buku hariannya itu.
Dan ketika Pram memegang dan membuka halaman pertama dari buku harian Cinta,
tangan Cinta jatuh lemas dari pipi Pram dan matanya kembali menutup dan yang
terlihat dari arah alat detector jantung Cinta menunjukkan garis lurus, itu
artinya Cinta telah tiada, Pram dan keluarga Cinta sangat sedih dan semua
menangis bersamaan pada saat itu juga.
Beberapa
hari kemudian setelah pemakaman Cinta, Pram ternyata telah menyelesaikan membaca
buku harian Cinta yang isinya hanya tentang dia dan dia hingga halaman
terakhir. Ternyata selama hidup Cinta hanya menyukai satu pria di kampusnya
yaitu Pram, dan berkat Pram-lah Cinta mempunyai semangat hidup yang tinggi
karena Pram selalu membuat Cinta tersenyum ceria sepanjang hari.
♥
SELESAI ♥
Ditulis Oleh : Windi W. Agustin ♥

Tidak ada komentar:
Posting Komentar